Home Seni & Budaya Barong, Karakter Mitologis Pelindung Bali

Barong, Karakter Mitologis Pelindung Bali

51
0
SHARE
Barong, Karakter Mitologis Pelindung Bali

Keterangan Gambar : Barong, ilustrasui

Misteri.detikone.com - PULAU Dewata menawarakan keindahan alam yang berpadu harmonis dengan adat budaya. Tradisi dan upacara keagamaan menjadi napas dalam kehidupan keseharian masyarakat Bali. Tidak mengherankan jika pemandangan orang bersembahyang ataupun mengaturkan sesajen bisa dilihat hampir sepanjang hari di Bali.

Bahkan, tradisi dan napas keagamaan warga Bali juga terbawa ke seni pertunjukan yang jamak dipertontonkan kepada pelancong. Sebut saja tari Kecak yang menampilkan fragmen Ramayana dengan iringan 'musik mulut' mistis. Dalam versi lain, ada juga tari Kecak yang menampilkan tarian Barong lengkap dengan penari yang kesurupan. Karakter Barong yang muncul di akhir pertunjukan menjadi penawar bagi mereka yang kesurupan.

Dalam pergelaran Calonarang yang biasanya dipentaskan di Pura Dalem, karakter Barong muncul sebagai lawan dan Rangda, tokoh jahat Rangda Ing Girah pada lakon Calonarang. Barong muncul membawa air penawar bagi mereka yang mengalami sakit akibat teluh yang disebar Rangda. Sungguh, pertunjukan tersebut berhawa mistis sekaligus membuat kagum.

Karakter Barong sendiri merupakan makhluk mitologi dalam Hindu. Ia merupakan simbol kebajikan atau dharma. Secara etimologi, kata Barong diyakini berasal dari Sansekerta yaitu kata b(h)arwang yang dalam bahasa Melayu dan Indonesia sejajar dengan kata 'beruang'. Hal itu mengacu kepada hewan penjaga hutan.

Ada juga pendapat lain yang mengartikan Barong berasal dari urat kata ba-ru-ang. Penggalan 'ru' dan 'ang' kemudian luruh menjadi 'rong' yang berarti 'ruang'. Hal itu mengacu kepada dua ruangan yang menjadi tempat penari Barong, yakni ruang bagian depan dan bagian belakang.

Dalam konsep keagamaan, Barong diartikan dalam dua kata 'bar/bor' dan 'ong'. 'Bor' disebut sebgaai poros, sedangkan 'ong' merupakan sebutan untuk Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa). Dalam hal ini, Ida Sang Hyang Widhi dimanifestasikan dalam wujud Bhatara Wisnu sebagai Yang Maha Pemelihara yang menjaga kehidupan di atas langit dan di bawah langit.

Ada beberapa jenis Barong dalam kebudayaan Bali, dari yang sering ditampilkan dalam pertunjukan Tari Barong hingga Barong yang bersifat sakral.

1. Barong Ket

Inilah Barong yang paling sering ditampilkan di pertunjukan Kecak dan Calonarang. Sekilas dari penampilan, barong ini menyerupai singa dan macan.

Jika dilihat dari bentuk badan hingga wajah, barong ini merupakan perpaduan antara macan, singa, sapi, dan naga. Ukurannya juga cukup besar dengan panjang 3,5 sampai 4 meter, dan tinggi 1,5 sampai 2 meter. Wajah barong ini berwarna merah, badannya ramping dengan semacam punduk di dekat kepala.

2. Barong Bangkal

Di Hari Raya Galungan dan Kuningan, warga desa di Bali akan dihibur dengan tampilan ngelawang Barong Bangkal.

Jika dibandingkan dengan Barong Ket, Barong Bangkal berukuran lebih kecil. Wujudnya pun berbeda. Barong Bangkal berwujud babi hutan hitam dengan moncong dan taring mencuat dan berambut.

3. Barong Macan

Tampilannya kayak Barong Ket, tapi topengnya macan. Badan Barong Macan yang terbuat dari kain dengan motif loreng atau tutul menyerupai macan.

Barong macan biasanya ditarikan saat upacara tertentu di tempat suci. Sama seperti Barong Bangkal, Barong satu ini juga digunakan untuk ngelawang meskipun tak terlalu umum.

4. Barong Asu

Barong Asu merupakan Barong dengan rupa seperti anjing. Barong ini sangat langka dan jarang dijumpai karena hanya ditemukan di beberapa daerah di Bali, terutama Badung dan Tabanan. Barong Asu sering ditarikan saat upacara dan juga ditarikan dengan cara ngelawang meskipun jarang.

5. Barong Gajah

Tampilan Barong Gajahnya cukup seram karena memiliki taring yang mencuat selain gading. Warna Barong Gajah didominasi abu-abu yang merupakan warna khas hewan tersebut.

Ukurannya pun tidaklah sebesar badan gajah asli. Barong ini sangat langka dan hanya ditemukan di beberapa daerah di Bali. Barong ini juga keramat bagi masyarakat. Hanya dipentaskan saat upacara tertentu dan secara ngelawang.

6. Barong Landung

Barong Landung merupakan bentuk asimilasi budaya Tiongkok. Barong ini terkait erat dengan kisah Jaya Pangus yang memperistri Kang Cing Wei, seorang Tiongkok. Versi kisah lain ialah legenda Ratu Gede Mecaling yang menyebarkan wabah penyakit di Nusa Penida. Sebagai penangkal wabah tersebut, seorang pendeta membuat boneka mirip Ratu Gede Mecaling untuk mengusir wabah tersebut.

Wujud Barong Landung ialah manusia berbadan tinggi (landung). Ada dua karakternya, yakni lelaki hitam dengan taring dan seorang perempuan putih dengan mata sipit seperti orang Tionghoa.

7. Barong Brutuk

Yang satu ini khas dari daerah Trunyan. Berbeda dari Barong lainnya, wajah Barong Brutuk terbuat dari batok kelapa, sedangkan badannya terbuat dari daun pisang kering (kraras).

Jika Barong lainnya ditarikan dua orang, Barong Brutuk ditampilkan hanya oleh seorang yang harus memenuhi persyaratan. Penari Barong Brutuk harus disakralkan selama 42 hari. Mereka harus bebas dari nafsu duniawi. Selain itu, Barong Brutuk hanya ditarikan di Pura Pancering Jagat.

8. Barong Nongnongkling

Nama nongnongkling diambil dari bunyi gamelan yang mengiringinya. Tampilan Barong yang satu ini juga hampir mirip Barong Brutuk ataupun Wayang Wong. Barong Nongnongkling umumnya ditampilkan di Kabupaten Klungkung.

Barong merupakan simbol kemenangan dari kebaikan. Ia menjadi sosok pelindung spiritual bagi masyarakat Bali. Barong dipercaya dapat meningkatkan aura energi spiritual positif bagi umat manusia. Dalam kisah yang ditampilkan dalam pertunjukan, Barong ialah wujud kebenaran. Tak sekadar simbol, kekuatan dharma (kebenaran, kebajikan) Barong dipercaya terdapat di bagian mukanya, khususnya pada mata dan jenggot. Karena itulah, masyarakat Bali percaya bahwa jika sebuah desa mengalami wabah, pemuka agama akan menjadikan air rendaman jenggot Barong sebagai air suci. Dipercaya, air tersebut memiliki kekuatan magis. Yang unik, jenggot Barong terbuat dari rambut warga.

Meskipun menjadi simbol kebajikan, wujud Barong bisa tampak menyeramkan buat beberapa orang. Barong mengambil wujud seekor singa besar dengan kepala memakai ketu (hiasan kepala) seorang pendeta. Telinga Barong dibuat lebar, dengan melotot dan tidak berkedip. Selain itu, mukanya pun merah. Ekornya yang berwarna keemasan dan lebat mengibas-ngibas. Namun, seulas senyum lebar selalu tampak di wajah Barong.

Sebagai simbol kebenaran dan kebajikan, Barong selalu muncul di Hari Raya Galungan. Hari raya itu merupakan hari untuk merayakan kemenangan dharma (kebenaran) melawan adharma (kejahatan). Di Hari Raya Galungan, Barong dibawa ngelawang, yakni menari keliling desa. Thomas A Reuter dalam bukunya, Custodians of The Sacred Mountains, menjelaskan perjalanan ngelawang merupakan sebuah paradigma simbolis dan ritual yang menyatakan hubungan antarpura, tidak hanya pada daerah pegunungan, tapi juga dimaknai sama oleh warga di bagian lain Bali.

Kegiatan ngelawangg Barong pada Galungan menyimbolkan sebagai suatu masa mengunjungi kerabat di Bali. Memang pada Galungan, orang biasanya akan kembali ke rumah asal-usul mereka untuk mengunjungi bapak ibu atau nenek kakek dan memberikan penghormatan kepada leluhur yang diabadikan di dalam pura nenek moyang mereka, yakni sanggah kemulan. Sumb: mp