Home Suguhan Lokal Geger, Banaspati Renggut Nyawa Nenek di Bali

Geger, Banaspati Renggut Nyawa Nenek di Bali

68
0
SHARE
Geger, Banaspati Renggut Nyawa Nenek di Bali

Dadong Jabreg (70), nenek dari Banjar Mayungan, Desa Antapan, Kecamatan Baturiti, Tabanan meregang nyawa setelah terluka parah karena dimakan makhluk gaib Banas Wong (Banaspati – sebutan populer di Jawa).

Banjar Mayungan, Desa Antapan, Kecamatan Baturiti yang terletak di balik bukit kawasan wisata Bedugul terlihat membisu. Udara dingin berselimut kabut tebal kerap menenggelamkan panorama desa tersebut sehingga tampak membisu, padahal aktivitas penduduk sekitarnya cukup padat.

Selain berdagang, warga sekitarnya juga berprofesi sebagai petani sayur, bunga dan buah. Tak heran, bunga gumitir berwarna kuning menghiasi ladang-ladang penduduk desa.

Di balik pemandangannya yang mempesona, ternyata desa ini menyimpan misteri. Ketenangan desa ini dimanfaatkan oleh para makhluk halus untuk menebar terror. Tidak hanya malam hari, saat siang haru pun para makhluk halus gentayangan untuk mencari tumbal.

Sebuah kejadian aneh terjadi di desa yang berbatasan dengan Desa Sulangai, Badung tersebut. Ketika kabut tebal menyelimuti desa tersebut saat siang hari, seorang nenek menjadi korban makhluk halus.

Ketut Sini (40) dan Ni Wayan Kinten (75), warga desa setempat menuturkan, seorang nenek bernama Ni Jabreg tinggal di sebuah pondok di tengah ladang di sebelah utara desa. Kondisi nenek ini sangat memprihatinkan.

Selain hidup di bawah garis kemiskinan, ia juga sakit-sakitan. Di pondokan tersebut si nenek tinggal bersama dengan anaknya  bernama I Wayan Kuag (35).

Dengan kondisi tersebut, si nenek lebih sering sendirian di rumah karena ditinggal anak I Wayan Kuag bekerja sebagai buruh. Biasanya, sebelum pergi bekerja, I Kuag memberi makan ibunya terlebih dahulu. Untuk menjaga keamanan dan keselamatan si ibu, Kuag harus mengunci pintu rumah rapat-rapat ketika ia bekerja.

Kuag khawatir ibunya keluar rumah dan terjatuh karena penglihatannya terganggu. Dengan kondisi seperti itu, untuk buang air besar terpaksa dilakukan si ibu di dalam kamar. Dan setelah pulang dari bekerja, barulah Kuag membersihkannya. Kadang-kadang, saat jam istirahat, Kuag harus pulang untuk melihat kondisi ibunya.

Pagi hari sebelum peristiwa naas menimpa Ni Jabreg, anaknya I Kuag menyiapkan makan untuk ibunya. Saat semuanya sudah beres, Kuag pun berangkat bekerja sebagai buruh tani tak jauh dari rumahnya.

Suasana desa sangat hening, karena semua warga sibuk dengan pekerjaan masing-masing menggarap ladang. Seperti biasa, saat siang menjelang sore, kabut pun turun menyelimuti desa tersebut membuat pemandangan menjadi temaram. Karena hari sudah siang, Kuag pulang untuk istirahat makan sambil melihat ibunya.

Tak ada rasa curiga sedikit pun, Kuag langsung menuju rumah pondokannya. Namun tiba di depan rumah, ia kaget melihat pintu kamar pondokannya terbuka, padahal saat ia pergi sudah digembok rapat-rapat. Sementara ia tidak melihat si ibu berada di halaman atau sekitarnya.

Kuag sontak kaget, manakala melihat dinding dan pintu rumahnya berisi bercak darah bergambar telapak tangan. Buru-buru ia masuk ke dalam kamar dan terkesima melihat ibunya tergeletak bersimbah darah.

Ketika ia membalikkan tubuh ibunya, ia melihat tangan kanan ibunya tercabik-cabik nyaris putus karena tinggal tulang belulang. Kulit dan daging bersih seperti teriris. Kondisi ibu sangat kritis. Napasnya tersengal-sengal tinggal di tenggorokan.

Secepat kilat Kuag membopong tubuh ibunya kemudian membawanya ke jalan raya sambil berteriak minta tolong. Mendengar teriakan I Kuag, warga kaget lalu menghampiri untuk memberi pertolongan. Salah seorang warga kemudian berinisiatif membawanya ke Rumah Sakit Umum Sanglah, Denpasar.

Namun sayang, setelah sampai di rumah sakit dan mendapat pertolongan dokter, nyawa I Jabreg tak bisa diselamatkan karena luka yang terlalu parah.

Tim dokter yang menangani memperkirakan, luka yang diderita Ni Jabreg diakibatkan oleh gigitan anjing. Namun warga desa tak yakin dengan hal itu. Menurut mereka, kejadian yang dialami Ni Jabreg adalah akibat makhluk halus.

Alasannya, di sekitar tempat itu tidak ada anjing buas, sampai memangsa manusia yang masih bernyawa. Apalagi memakan seluruh tangan hingga tinggal tulang belulang. Kalau dimakan anjing, prosesnya akan lama dan bukan tidak mungkin akan cepat terpergok warga, sebab si nenek akan berteriak kesakitan saat tangannya digigit.//