Home Pusaka Jejak Peradaban Besi Luwu di Keris Majapahit

Jejak Peradaban Besi Luwu di Keris Majapahit

66
0
SHARE
Jejak Peradaban Besi Luwu di Keris Majapahit

Keterangan Gambar : Keris

Misteri.detikone.com - Keris-keris kuno yang ditangguh sebagai "Keris Majapahit". Boleh dikata tiada tandingnya jika dibandingkan dengan keris-keris yang disebut lebih dari tangguh lain seperti Mataram di Jawa Tengah, misalnya. Meski demikian tidak pernah disebut, darimana gerangan asal besi atau bahan logam yang dipakai oleh empu-empu Majapahit dulu. Besi penting dari luar negeri atau besi lokal dari Jawa-kah?

Tangguh secara keseluruhan. Di dunia perkerisan di Pulau Jawa, tangguh Memeriksa zaman pembuatan atau gaya pembuatan. Jadi jika seseorang mengatakan bahwa sebilah keris tangguhnya Majapahit? Itu artinya keris yang diharapkan dari zaman Kerajaan Majapahit. (Harsrinuksmo 2004: 459).

Tangguh juga memiliki makna sukses penarihan keris. Kata tangguh sendiri berarti pendugaan, atau estimasi pada zaman apa juga dari mana keris yang dibuat. Sedangkan tarih artinya tahun. Perlu dimaklumi pada masa lampau (kuno) belum ada cara pencatatan dan usaha pembuatan pengukuhan keaslian. Pengertian lain tentang tangguh adalah “toya”, kata dari bahasa Jawa yang artinya 'air'. Maksudnya, adalah perkiraan aliran dari mana keris itu berasal, atau di zaman apa keris itu terakhir disepuh dengan air. (Haryono Haryoguritno 2005: 350).

Lebih jauh lagi Haryoguritno menjelaskan, apakah dikembalikan sebilah keris disahkan bertangguh Pajajaran Majapahit? Itu bisa diartikan, jika dilihat dari bahannya berasal dari Pajajaran (Jawa Barat, Pasundan), sedangkan menurut gaya pembuatan berasal dari Majapahit (Jawa Timur). Hal itu, menurut Guritno, sangat mungkin bisa terjadi dengan perkiraan kompromistis, itu keris yang dibuat oleh empu dari Pajajaran yang diberi tugas oleh dinasti Brawijaya untuk membuat keris di Majapahit.

Konsep tangguh memang bukan maksud sorotan dalam tulisan kali ini. Akan tetapi, tulisan ini lebih banyak mencoba merunut, bagaimana kerajaan besar seperti Majapahit (1293-1500) yang tidak hanya kuat armada perdagangannya, akan tetapi juga kehidupan agrarisnya, bisa hebat membuat keris-keris dan perang tombak berkualitas menguntungkan. Bahan logam dari mana? Tidak pernah diungkap secara terbuka ...

Keris-keris teratas Haryono Guritno

Keris-keris dengan besi berkualitas atas dari berbagai zaman, dari kiri keris Betok tangguh Pajajaran, keris Peksi Liman tangguh Mataram, keris Laler Mengeng wedana pitu tangguh Majapahit, serta keris Megantara kamarogan tangguh Majapahit pilihan Ir. Haryono Haryoguritno. (Atas perkenan Buku Keris Jawa)

Kepandaian logam memenangkan pertarungan dalam negara, serta memenangkan koordinasi. (Anthony Reid 2014: 120-121). Maka tidak heran, jika keahlian mengolah, dibuat dan bahkan dari mana bahan yang mereka olah dan tempa itu berasal, disembunyikan oleh kerajaan-kerajaan di masa lalu.

Dari mana besi yang diolah kerajaan Majapahit untuk menjadi senjata-senjata pusaka yang legendaris, seperti keris-keris Majapahit yang dihasilkan? Rahasia Sinengker. Namun demikian, berbagai literatur ilmiah yang membahas tentang sejarawan baik dari dalam maupun luar negeri ini kuat mengatakan, bahwa Majapahit berkaitan erat dalam hal “penting” bahan logam besi dan pamor dengan kerajaan Luwu di Sulawesi Selatan di masa lalu.

Nusantara miskin bijih besi, kecuali di wilayah tertentu seperti bagian tenggara Kalimantan, Sulawesi bagian tengah, daerah pedalaman Sumatera dan Sumbawa. Di Jawa yang sama sekali tidak ada bijih besi, dan sepanjang zaman pra-kolonial hak yang dipertaruhkan terkait dengan perajin pemegang hak istimewa yang berkaitan dengan kekuatan gaib: pande besi. Di manapun di Nusantara pandai besi lebih banyak dilihat sebagai empu yang memiliki magis, namun dapat dibayangkan di Jawa, ritual dan magisnya lebih terasa karena kelangkaan logam itu. (Denys Lombard 1996: 132).

Dalam tradisi di Jawa, pembagian pulau di antara kerajaan-kerajaan Majapahit di timur dan Pajajaran di barat, dirujukkan pada seorang pandai besi kerajaan yang memiliki kekuatan magis seperti Siyung (Ciung) Wanara yang membahas hubungan dan bertempur dengan saudaranya (Babad Tanah Jawa 14-17) . Raja Kedua Bone, daerah Bugis Unggul di Sulawesi, memakai gelar Petta Panre Besi atau “Tuan Kita Pandai-Besi”. Di negara berkembang mana saja, para pandai-besinya dikirim ke ibu kota untuk menjamin penguasaan sumber daya yang kuat di bawah perlindungan raja, merupakan salah satu ciri kerajaan besar. (Anthony Reid 2014: 121).

Bukit Pongko di seberang Danau Matano

Bukit Pongko dekat bukit Makam Raja-raja Luwu di pinggir danau Matano, Sulawesi Tengah, juga disebut sebagai “gunung besi”. Dari kejauhan, bukit Pongko terlihat lebih gundul dari bukit-bukit lainnya di sekitar Danau Matano, lantaran diperoleh kadar besi tanahnya. Warna bukit tidak terlalu hijau, akan tetapi tergantung kemerahan. Di sebalik bukit Pongko yang merah itu, biasa ditambang, bahan-bahan yang digunakan untuk baja. (KerisNews.com/Jimmy S Harianto)

Jawa terkenal dengan hasil kerajinan besinya yang indah, dan keris serta pedangnya ditawarkan hingga India (Tome Pires 1515: 93, 179). Meskipun demikian, tidak pernah diperoleh bahwa di Jawa ada tambang bijih besi. Meskipun mempertimbangkan legendaris antara kerajaan Pajajaran di Jawa Barat sebelum tahun 1500 dengan para pandai-besi dapat menunjukkan bahwa di Jawa Barat daya sudah pernah ditambang bijih besi yang mengandung titanium. Namun tidak ada bukti industri keris di Majapahit atau kerajinan besi yang menerima bahan-bahan lokal. Kalimantan (Kalimantan) dan Sulawesi hampir pasti pemasok terbesar di Indonesia. (Reid 2014: 125).

Sumber yang paling mungkin dari besi kaya (kandungan) yang digunakan untuk membuat keris Majapahit adalah Sulawesi bagian tengah. Bijih besi laterit yang mengandung hingga 50 persen dan sisa-sisa nikel, yang ditemukan sangat dekat pada permukaan tanah, khususnya di sekitar Danau Matano dan di bagian hulu Sungai Kalena. (Kruit 1901: 149-150). Besi dari Sulawesi dapat diluncurkan melalui Teluk Bone, yang dikuasai Kerajaan Luwu. Atau melalui pantai timur Sulawesi, yang pada abad ke-16 dan sebelumnya dikuasai oleh Kerajaan Banggai. Banggai dan Luwu mengambil dalam kitab Nagara-kretagama (Prapanca 1365) sebagai pembayar up untuk Majapahit, yang terkait dengan ekspor besinya sehingga menjadi penting di masa itu. (Reid 2014: 125).

Sejarawan Anthony Reid, lebih jauh lagi mengungkapkan kerajaan Luwu di Sulawesi Tengah mungkin menjadi tempat peleburan logam untuk kerajaan-kerajaan Bugis dari abad ke-14, berkat besi yang disalurkan dari penduduk pebukitan (Pegunungan Verbeek. Merah) yang menambangnya untuk pakaian pelindung dari Jawa dan tempat-tempat lainnya. Pada pertengahan abad ke-17, "besi luwu" masih tetap merupakan salah satu ekspor utama dari Makassar ke Jawa bagian Timur (Speelman 1607 A: 111).

Besi yang lebih murah, menurut Reid, pada waktu itu mulai datang dari Cina dan Eropa. Akan tetapi para pembuat keris di Jawa menyimpan lebih suka besi Sulawesi yang lebih banyak menyimpan nikelnya untuk membuat keris yang berpamor. Di sekitar tahun 1800, bagaimanapun, di Sulawesi tengah masih harus dicari oleh para pembuat keris di Kalimantan (Kalimantan) Selatan, yang perlu mencampurnya dengan “besi murni” yang lebih murah, sehingga sisa nikelnya akan menampilkan pamornya. (Marsehal 1968: 138).

Karimata, sebuah pulau kecil di bawah kekuasaan kerajaan Sukadana di Kalimantan barat laut, menurut Reid juga dikenal sebagai "pengekspor baja" terutama semenanjung Malaya. Orang Melayu dari wilayah Melaka, pada sekitar 1600, memakai keris “yang bajanya berasal dari Karimata” (Eredia 1600: 232). Bahkan Banten, pelabuhan di Jawa Barat, kompilasi itu merupakan pelabuhan terbesar di Jawa yang dilengkapi "besi dalam jumlah besar dari Karimata" (Lodewyeksz 1598: 119).

Anthony Reid juga menerjemahkan dalam bukunya “Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680” buku pertama (terjemahan), yaitu Armada Jawa yang merebut Sukadana di Karimata pada tahun 1622, merupakan pertarungan (bahasa) Mataram satu-satunya di luar Jawa, pastilah coba untuk menyimpan sumber besi (dan permata). Kekuasaan Mataram segera mengendor, dan Karimata kembali perlengkapannya ke seluruh kepulauan. Orang Belanda membeli hampir sepuluh ribu kampak dan parang Karimata di tahun 1631 (Dagh-Register 1631-1634: 28,47) dan ribuan ribu di tahun 1637.

Danau Matano, menurut berbagai catatan, terbentuk akibat perubahan patahan bumi di wilayah tersebut (kesalahan mogok, lihat ilustrasi) sekitar sejuta hingga empat juta tahun lalu. Peralihan patahan bumi, yang berkelanjutanebalikan Arah ini, tidak hanya melintasi lapisan bumi yang terbawah menjadi terlihat di permukaan, akan tetapi juga di tempat rendah membuat genangan danau yang dalam. Kedalaman bumi yang terangkat ke permukaan ini, mengandung besi dan nikel dalam jumlah besar. (Dokumentasi Istimewa)

Penelusuran arkeolog, sejarawan dan antropolog Indonesia sendiri menguatkan hal itu, yang berarti hubungan erat di masa lalu antara kerajaan Majapahit dengan kerajaan Luwu di Sulawesi tidak memungkinkan hubungan perdagangan biasa. Salah satu penelitian lapangan yang dilakukan arkeolog Universitas Hasanuddin, Iwan Sumantri pun menemukan bahwa Luwu adalah pemasok utama besi untuk Majapahit.

Pakar sejarah maritim dari Universitas Hasanuddin, Edward L Poelinggomang pun membahas tentang buku bungai rampai tentang Kedatuan Luwu (Editor Iwan Sumantri 2006), yaitu jejak hubungan antara Kedatuan Luwu dan Kerajaan Majapahit di Jawa Timur, bahkan dalam sejarah.

Dalam sejarah yang dinyatakan Luwu, (penguasa kedatuan Luwu) Simpurusiang memiliki seorang putra bernama Anakaji. Putra Luwu ini mempersunting putri Majapahit yang bernama We Tapacina. Hal ini, menurut Poelinggomang, menunjukkan kerajaan Luwu memiliki hubungan politik dan perdagangan dengan kerajaan Majapahit di Jawa Timur itu. Mengutip sejarawan lain, Hall Kenneth R, maka Poelinggomang pun mengungkapkan bahwa di kepulauan Nusantara ini telah membentuk zona perdagangan maritim pada abad ke-13. Zona Perdagangan ini berada dalam hegemoni Majapahit.

Dari hubungan perdagangan inilah, menurut sejarawan maritim Poelinggomang ini, para pakar di Jawa memperoleh bahan baku (bijih besi) dari kedatuan (Luwu) ini, jenis keris yang disukai berpamor. Hubungan perdagangan inilah yang membuahkan terjalinnya hubungan politik melalui perkawinan.

Masih dalam catatan ahli sejarah maritim, Edward L Poelinggomang, pada perkembangan hubungan perdagangan antara Kedatuan Luwu dan kerajaan Majapahit ini memungkinkan seorang pujangga keraton Majapahit, Prapanca, ikut bepergian armada perdagangan ke Luwu. Prapanca melakukan kunjungan ke Luwu pada 1364, beberapa tahun setelah perkawinan politik antara Anakaji, putra Datu Luwu Simpurusiang, dengan We Tapacina putri Majapahit. Dan dalam perjalanannya pulang ke Majapahit dari Luwu, Prapanca singgah di Malaka 1365 untuk menyelesaikan kitab karyanya yang kita kenal sekarang, Nagarakrtagama.

Apakah hubungan antara Kedutaan Luwu dan Kerajaan Majapahit memenangkan kisah tertulis? Ternyata tidak demikian. Berdasarkan temuan lapangan yang dilakukan oleh tim peneliti dari proyek “The Origin of Complex Society di Sulawesi Selatan” (OXIS) yang dipimpin David Bulback dan Ian Caldwell Bulbeck serta Universitas Hasanuddin Makassar pada tahun 1996, memperkuatkan hal itu. Terkait Kedatuan Luwu berkait erat dalam hubungan politik dan perdagangan dengan Majapahit di Jawa. Dan itu Kedatuan Luwu pada abad ke-14 yang penting dalam hal menyuplai besi sebagai bahan baku senjata bagi kerajaan Majapahit. *

Desa Matano kecamatan Nuha di Luwu Timur

Di desa Matano, kecamatan Nuha, Luwu Timur di seberang danau Matano, Sulawesi Tengah ini dahulu merupakan tempat yang berbeda, bahkan mungkin lebih banyak, ahli-ahli pande besi. Mereka dulu membuat parang, cangkul dan badik cukup dengan mengeruk "bukit besi" yang mereka namai Gunung Pongko. Tiga pikul kerukan tanah atau batu brungkulan mengandung besi dari bukit, cukup untuk membuat bahan parang dan badik...Sumb: Knew